Label

Sabtu, 02 Maret 2013

Peran Kearifan Lokal Dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup




Pada pasal 2 huruf l, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dijelaskan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan dengan memerhatikan beberapa asas, salah satunya kearifan lokal.
Selanjutnya, pada pasal 70 ayat 3 bagian e, dalam Undang-undang PPLH 2009, dijelaskan bahwa masyarakat dapat berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam rangka pelestarian lingkungan hidup.
Nah, dari 2 pasal tersebut tersirat bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang bersifat positif yang diakui dan dipertahankan oleh masyarakat, selain merupakan nilai-nilai luhur yang patut dilestarikan secara turun-temurun juga dapat berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pertanyaan yang ingin kita jawab bersama yaitu, bagaimana peran kearifan lokal dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut kita harus tahu apa defenisi dari kearifan lokal dalam konteks lingkungan hidup. Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. (UU PPLH 2009).
Nilai-nilai kearifan lokal dalam konteks pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup itu seperti apa ? Contohnya, kehidupan suku Anak Dalam yang mendiami pedalaman Provinsi Jambi dan Sumatera Barat, kehidupan mereka sepenuhnya bergantung pada alam. Dalam aktivitas kehidupannya ada nilai-nilai adat yang dipelihara, misalnya mencari kepiting rawa itu diambil secukupnya untuk dikonsumsi dan tidak diambil secara eksploitatif,dll.
Kehidupan suku yang sering dijuluki Anak Rimba sepenuhnya bergantung pada alam. Akan bahaya kalau habitat mereka rusak karena pembukaan hutan untuk kegiatan perkebunan, bagaimana nasib mereka dan anak cucu mereka apabila hutan yang menjadi habitat mereka rusak ? Apalagi kehidupan mereka yang sedikit tertutup dari dunia luar dan kebanyakan mereka buta aksara, bahkan sering ditipu oleh pembeli hasil bumi mereka dan pembeli tanah. Tatanan adat istiadat mereka yang eco friendly sangat berlawanan dengan kehidupan diluar habitat mereka yang cenderung eksploitatif. Ini harus menjadi perhatian pemerintah, bagaimana melakukan pemberdayaan agar mereka bisa berbaur dengan masyarakat luar, karena tatanan kehidupan di dunia ini sudah bergeser ke arah “kerakusan” dan alam tidak bisa selamanya menyediakan sesuatu untuk mereka.
Itu contoh kehidupan anak Rimba di Jambi. Bagaimana contoh kearifan lokal di Papua ? Apakah Anda pernah mendengar istilah “Sasi”. Sasi adalah aturan tidak tertulis dalam masyarakat hukum adat mengenai larangan mengambil hasil bumi di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu dalam hak ulayat masyarakat adat tertentu. Sasi ini bersifat mengatur, mengikat dan dipertahankan, serta mempunyai sanksi. Ada juga sasi yang tidak ada sanksi, tapi masyarakat sadar kalau sudah dilarang oleh Ondoafi (tua adat) untuk tidak mengambil hasil bumi di suatu tempat dan mereka melanggar di percaya bahwa nantinya bisa dapat sakit.
Contoh kasus dalam mencari ikan di laut. Sasi yang diterapakan yakni tidak melaut di daerah yang sudah ditetapkan sebagai “rompon”. Jadi di daerah rompon ini masyarakat tidak boleh menangkap ikan disitu dalam kurun waktu tertentu. Setelah tenggang waktu yang ditetapkan berakhir, Tua Adat bersama masyarakat berbondong-bondong menuju rompon. Sebelumnya Tua Adat membaca doa, setelah itu masyarakat bersama-sama menangkap ikan. Hasil tangkapan mereka dikonsumsi bersama, kalau ada kelebihan nanti dijual di pasar guna membeli sembako.
Selain larangan menangkap ikan dalam kurun waktu tertentu di suatu lokasi, dalam sasi juga ditekankan bahwa masyarakat hukum adat tertentu dilarang menggunakan bahan peledak dalam mencari ikan di laut. Sasi ini kebanyakan di Papua diterapkan untuk masyarakat hukum adat yang bermukim di kawasan Teluk Cenderawasih, seperti di Biak.
Sasi ini mengajarkan kepada kita tentang prinsip mengelola sumber daya alam secara lestari dan berkesinambungan (sustainable), agar sumber daya alam yang dinikmati hari ini juga dapat dinikmati di hari esok. Sedehananya kalau kita menggunakan bahan peledak (dopis) dalam mencari ikan, efek penggunaan bahan peledak adalah terumbu karang yang menjadi habitat ikan rusak. Selain itu, bukan ikan berukuran besar saja yang mati, tapi juga ikan yang masih kecil-kecil dan tidak layak untuk dikonsumsi. Sisi positif menggunakan dopis yaitu, hasil tangkapan melimpah tapi untuk hari itu saja, tapi tidak ada garansi bahwa besok bisa makan ikan. Lebih baik memancing, walaupun hanya dapat satu atau dua ekor saja, namun ada garansi bahwa hari esok masih bisa makan ikan.
Kelemahan dari sasi adalah hanya berlaku bagi masyarakat hukum adat tertentu dan hanya berlaku di hak ulayat masyarakat hukum adat tersebut. Misalnya, Ondoafi Kayu Pulau melarang masyarakat hukum adatnya untuk tidak melaut dalam jangka waktu 6 bulan di sekitar perairan Teluk Humboldt, agar terumbu karang yang baru di tanam dapat tumbuh dengan baik. Larangan ini hanya berlaku bagi masyarakat hukum adat Kayu Pulau yang berprofesi sebagai nelayan, tapi tidak bagi nelayan asal Serui, Biak, Buton,dll.
Sasi sangat susah diterapkan di kawasan perkotaan yang penduduknya heterogen. Bagaimana sasi dan kearifan lokal lainnya dapat dipertahankan secara turun-temurun sebagai warisan budaya yang patut dilestarikan ? Langkah tepatnya, nilai-nilai kearifan lokal ini dapat dimasukan dalam kurikulum pendidikan, yakni pada mata pelajaran muatan lokal (mulok). Isi (substansi) materinya disesuaikan dengan kearifan lokal setempat. Hal ini dilakukan agar para peserta didik dapat mencintai budayannya sejak dini dan di satu sisi mereka dapat ikut menjaga lingkungannya agar tetap lestari. Prinsip-prinsip kearifan lokal juga dapat disinkronkan dengan program Adiwiyata, sehingga bukan sekolahnya saja yang bersih dan indah serta asri, tapi budaya Papua dan ornamen-ornamennya perlu ditonjolkan di sekolah. Misalnya, ada pot yang ditanami bunga yang indah, coba pada potnya di cat motif khas Papua.
Di Kota Jayapura, ada perda yang mengatur bahwa gedung pemerintah, gedung pertokoan, hotel, dll, wajib memajang ornamen khas Papua itu sangat baik, bagaimana kalau aturan ini juga diterapkan di sekolah-sekolah, sehingga lahirlah sekolah Adiwiyata berbasis kearifan lokal.
Kira-kira perbincangan kita mengenai, “Peran Kearifan Lokal dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup”, seperti itu. Selamat Siang. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar